Memahami Pola Pikir Investor Startup di Indonesia

Memahami Pola Pikir Investor Startup di Indonesia

Pola pikir investor startup di Indonesia – Startup pada masa kini sering diartikan sebagai perusahaan yang baru berkembang. Anda mempunyai bisnis yang baru dimulai dan baru merintis, maka Anda layak disebut pebisnis startup. Biasanya pebisnis pemula atau startup ini sedang berada pada fase pengembangan usahanya seperti melakukan riset pasar untuk menemukan target pasar yang tepat.

Investor Startup di Indonesia

Banyak startup yang mengalami kendala untuk berkembang. Misalnya, terkendala masalah pendanaan usahanya sendiri. Untuk itu, mengandalkan investor yang mau diajak bekerja sama adalah langkah yang tepat bagi para startup. Namun, mencari investor ada kalanya membutuhkan strategi tertentu supaya investor yang dicari merupakan penyokong dana yang tepat.

Untuk memahami pola pikir investor startup di Indonesia, maka sebagai startup ada baiknya mengikuti panduan mengetahui jenis investor yang tepat serta pola pikirnya yang harus startup ketahui.

Tipe Investor

Seorang CEO Investment Partner GDP Venture, Antonny Liem, mengemukakan bahwa tipe investor jenisnya beragam dan perlu diketahui oleh startup sebelum mengincar sokongan dari investor tersebut.

1. Angel Investor

Disebut ‘Angel Investor’ karena biasanya memang investor tipe ini bisa terbilang mudah percaya kepada founder atau sang penggalang dana. Tak tanggung – tanggung, sokongan dana pun bisa dikucurkan kepada founder startup sekitar sampai $100 ribu dolar Amerika.

2. Venture Capital

Karena di indonesia ini startup masih belum begitu banyak, makanya Venture Capital gencar melakukan investasi untuk para startup ini. Tipe investor yang kedua ini, mempunyai pengelola keuangan yang disebut fund manager yang mengumpulkan dana dari investor yang siap dikucurkan kapan saja. Namun, Venture Capital ini mengetahui resiko berinvestasi pada startup begitu tinggi, oleh karena itu VC tersebut biasanya menginginkan bagi hasil yang terbilang tinggi pula. Yaitu maksimal sampai 20 kali lipat.

3. Corporate VC

Tujuan dari corporate VC ini juga sama, yaitu dibentuk untuk dapat memberikan sokongan dana bagi para startup. Umumnya corporate VC ini merupakan sebuah grup besar yang terdiri dari beberapa investor. Biasanya investor yang tergabung ke dalam grup besar ini merupakan jenis perusahaan di bidang yang sama.

4. Private Equity (PE)

Investor jenis ini hanya mengincar perusahaan yang sudah berkembang dan berani membeli perusahaan tersebut untuk dapat dikelola secara sendiri.

5. Pemegang Saham Publik

Investor ini merupakan pemegang saham secara perorangan (siapa saja bisa menjadi broker) yang nantinya membeli saham pada perusahaan startup.

6. Bank Investor

Bank investor ini akan bertindak sebagai pemegang saham ataupun menjadi perantara penjamin antara investor dan startup.

Baca juga, Perusahaan Pinjaman Dana Online Terpercaya

Investor Indonesia

Apa yang Dipikirkan Investor?

Perlu diingat, investor manapun dan apapun jenisnya, tujuannya hanya satu. Yaitu mengincar keuntungan bagi hasil ROI (return of investment) yang menjanjikan keuntungan besar. Biasanya ROI ini adalah hal penting dan utama yang dilihat investor sebelum melakukan investasi pada startup.

Sebelum menilai layaknya sebuah investasi dilakukan, biasanya investor akan menilai kinerja startup itu sendiri seperi investor jenis Venture Capital. Atau bisa diilihat dari hasil portofolio serta presentasi perusahaan startup tersebut.

Selain melihat hasil kinerja portofolio, para investor startup ini juga ada yang menilai strategi perusahaan dalam melakukan inovasi maupun branding. Dan ROI adalah hal terakhir yang dilihat. Langkah dealing investment tersebut merupakan hal utama yang dilihat oleh Corporate VC. Biasanya Corporate VC hanya berani melakukan investasi pada perusahaan yang sejalan dengan grup tersebut. Seperti halnya Mandiri yang bergabung dengan Corporate VC dapat melakukan investasi pada perusahaan startup seperti fintech.

Sementara PE akan mengontrol ROI-nya sendiri. Biasanya ROI yang dihasilkan kecil namun bernilai besar mengingat ia adalah pemilik penuh atas perusahaan startup yang dibelinya.

Ada juga investor seperti angel investor yang terlebih dahulu melihat brandnya saja dan bisa langsung melakukan investasi tanpa basa – basi.

Setiap investor memiliki pola berpikir investasi berbeda beda dan mempunyai ketentuan sendiri. Jika founder startup akan membidik investor, maka ia harus siap dan mengetahui jenis investor yang tepat sebabgai penyokong dana untuk mengembangkan usahanya nanti.

Baca juga, Jasa Pemasangan Billboard dan Baliho

Apa Yang Investor Lihat?

Profil founder startup adalah hal utama yang dilihat. Seberapa meyakinkan startup sebagai founder, akan menjadi pertimbangan investor. Tak hanya melihat seberapa besar kehandalannya dalam mengusung ide, inovasi dan menguasai kekuatan dan kelemahan usahanya, sebagai founder startup juga harus mampu menyelesaikan masalah dan tantangan yang ada baik ketika diuji investor maupun saat berada dipasaran.

Seorang founder startup haruslah berpikiran terbuka. Mau menerima ide dan saran serta mau belajar dan bekerja keras saat akan menerima tantangan bisnisnya.

Investor juga akan melihat peluang pangsa pasar apakah mempunyai peluang yang bagus (bisa menghasilkan target pasar) yang sesuai dengan model bisnis yang ditawarkan startup. Tak hanya itu, investor akan melihat bagaimana kemampuan startup dapat menyesuaikan diri dengan kondisi pasar ataupun dengan pesaing lainnya.

Hal terakhir bisa jadi hal yang utama. Investor akan melihat siapa saja yang sudah melakukan investasi pada startup tersebut. Akan lebih menguntungkan lagi jika investor besar mau terlibat yang tentunya akan menjadi pertimbangan investor lainnya untuk mau ikut juga melakukan investasi pada startup. Supaya meyakinkan sang investor untuk mau melakukan investasi pada startup, tentu uraian mengenai hak-hak investor beserta manajemen resiko yang baik akan bisa dipertimbangkan.

Langkah – langkah Menarik Investor

Langkah -Langkah Menarik Investor

Baca juga, Rekomendasi Situs Trading Jual Beli Bitcoin Indonesia

Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan para perusahaan startup dalam rangka menarik investor.

  • Membuat proposal investasi. Langkah pertama ini dilakukan sebagai upaya menarik investor melalui presentasi dari proposal usaha yang telah dibuat.
  • Melakukan presentasi yang baik dan menarik kepada investor. Hal ini memang tak akan membuahkan hasil secara instant namun startup bisa melakukan pendekatan presentasi yang baik secara terus menerus sebelum modal atau dana sangat dibutuhkan oleh startup. Karena mencari investor di waktu yang tepat adalah bukan pada saat Anda membutuhkan dana, namun sebalikya.
  • Jika investor telah tertarik dengan presentasi dari startup mengenai brand dan usahanya, maka startup bisa membuat Term sheet yang berisi perjanjian kerjasama berupa persyaratan dana investasi, tindakan dan kontrol perusahaan. Biasanya term sheet ini mempunyai periode kadaluwarsa tertentu untuk jaga-jaga bila perjanjian investasi batal.
  • Setelah langkah term sheet dilakukan, selanjutnya pihak investor akan melihat proses due dilligence yang akan memuat laporan berupa dokumen internal seperti laporan keuangan, ada tidaknya hutang perusahaan, struktur broker dan lain- Pengecekan proses due dilligence ini bisa membutuhkan waktu sekitar 1 sampai dua bulan.
  • Selanjutnya, startup harus membuat dfinitive documents yang memuat kontrak persetujuan seperti SSA (share subscription agreement) dan SHA (share holder’s agreement).
  • Pada tahap akhir ini, investasi bisa segera dicairkan dan umumnya masuk ke rekening bank startup setelah perjanjian difinitive documents.

Sebelum mengambil langkah tepat untuk menarik para investor, ada baiknya pelaku startup erlebih dahulu memahami pola pikir investor startup di indonesia, kemudian mengetahui jenis atau tipe investor yang tepat bagi perusahaan sebelum akhirnya melakukan pendekatan penggalangan dana.